Langsung ke konten utama

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Jasanya turut dirasakan semua orang Indonesia, tapi tak satu pun dari kita tahu namanya.

Sosok yang satu ini memang tidak banyak diketahui masyarakat luas. Namun jika melihat jasanya, tokoh bernama Winoto Danoeasmoro ini adalah termasuk orang kepercayaan dari Presiden Soekarno. Jasa lelaki kelahiran Purworejo saat menjadi sekretaris pribadi Ir. Soekarno tentu amatlah mendukung pencapaian berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tidak hanya sebagai sebagai sekertaris Ir. Soekarno, Winoto pun termasuk dalam pemuda yang terlibat membawa dua tokoh penting ke Rengasdengklok. Meski banyak perannya, nama Winoto tak banyak disorot sebab semasa hidup lelaki ini cukup jarang tampil di depan media dan jauh dari publikasi.

Peran Penting Winoto Di Masa Sebelum Kemerdekaan
Di antara peran penting Winoto adalah menjadi sekretaris pribadi Presiden Soekarno. Pria kelahiran 19 Oktober 1908 ini juga merupakan bagian dari tokoh pemuda yang turut serta dalam peristiwa Rengasdengklok. Perlu diketahui bahwa peristiwa penculikan yang dilakukan kaum muda terhadap Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok untuk kemudian meminta percepatan proklamasi kemerdekaan tanah air. Karena peristiwa Rengasdengklok, pelaksanaan proklamasi dilakukan tanpa campur tangan organisasi buatan Jepang.

Dari Mulai Kepala Rumah Tangga Istana Negara Hingga DPR
Menurut salah seorang kerabat yang diketahui bernama Muhadi, Winoto sempat menjabat beberapa posisi penting. Di antaranya asisten pribadi Presiden Soekarno, kepala rumah tangga istana negara, hingga menjadi anggota DPR. Namun dari semua jabatan itu, yang paling membuat Winoto bangga adalah menjadi asisten sekaligus sekertaris pribadi Presiden Soekarno. Diceritakan saat menjadi asisten sang presiden, Winoto selalu diajak ke banyak tempat baik untuk tugas negara maupun di luar itu. Saat ke luar negeri pun, Winoto tak ketinggalan di bawa sang proklamator. Dan Presiden Soekarno yang gemar melakukan meditasi kerap mengajak Winoto bersamanya. Winoto pun dipercaya untuk mengasuh putra dan putri Bung Karno kala dirinya dan sang istri harus bertugas di luar rumah.

Pasca Pensiun Membangun Jalan Hingga Masjid
Setelah pensiun, laki-laki yang akrab disapa Mbah Winoto itu kembali ke kampung halamannya. Namun jangan dikira dirinya akan leha-leha menikmati masa tua, sebaliknya Winoto seakan menebus apa yang tak bisa dilakukannya semasa muda karena dirinya merantau di luar daerah. Di kampung halamannya, Mbah Winoto mulai membantu pembuatan jalan desa. Tak hanya itu, ia pun membangun masjid dengan dana dari kantong pribadinya sendiri.

Menolak Di Makamkan Di Taman Makam Pahlawan
Sejak di usia muda, Winoto memang dikenal sebagai pribadi yang amat sederhana. Dirinya tidak suka terhadap publikasi, dan yang lebih unik lelaki yang wafat pada 11 Juni 1985 ini berpesan bahwa tak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Alasannya terbilang nyeleneh yaitu tidak ingin dimakamkan bersama-sama bintang film. Memang tahun-tahun itu, banyak bintang film yang dimakamkan di taman makam pahlawan. Maka asisten pribadi Bung Karno tersebut ketika meninggal dunia dimakamkan di pemakaman Desa Banyuurip.

Dan makam Mbah Winoto bergabung dengan banyak nisan lainnya, cukup sulit ditemukan. Makam sederhana Mbah Winoto dengan nisan berwarna putih dengan lumut di beberapa bagian, nampak amat sederhana. Tulisan penanda makam yang bertuliskan “H Winoto Danu Asmoro” pun terlihat hanya samar-samar sebab mulai pudar.

Begitulah kisah perjalanan hidup dan jasa-jasa yang telah dilakukan Winoto. Cukup luar biasa bahkan sedikit banyak berpengaruh bagi bangsa lantaran beliau adalah sang asisten pribadi Putra Sang Fajar. Sayangnya, nama sosok sederhana itu kini seakan hilang ditelan jaman. Sepudar tulisan namanya di papan nisan yang mulai tak diperhatikan lagi.(Firmansyah Mawero)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Atlantis Di Indonesia

Isu kejatidirian bangsa Indonesia, bahwa Indonesia adalah pusat peradaban dunia, semacam Atlantis, dalam pengamatan saya mengemuka dalam tiga tahun terakhir ini. Ini seiring dengan terbitnya terjemahan dua buku kontroversial, "Atlantis itu Indonesia" (Arysio Santos, 2009) dan "Eden in the East" (Stephen Oppenheimer, 2010) . Saya berandai-berandai, bila kedua buku itu tidak diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia, mungkin isu kejatidirian bangsa tak mengemuka serius sekarang, meskipun Soekarno sudah meneriakkan soal jati diri bangsa lebih dari 50 tahun yang lalu. Buku Atlantis itu kemudian melahirkan banyak buku lain tulisan orang-orang Indonesia yang umumnya mendukung bahwa Atlantis itu Indonesia. Beberapa kalangan pejabat atau tokoh masyarakat pun ramai-ramai mendukung tesis yang digulirkan Santos ini entah apa tujuannya, mungkin berusaha mengangkat jatidiri bangsa yang mungkin dalam pandangan mereka tengah merosot. Saya dengar sendiri itu diucapkan dari seora...

Veteran Di Asingkan 15 Tahun Di Nusakambangan

SOLO, Indonesia – Hadi Pranoto (87 tahun) adalah salah satu saksi hidup peristiwa perang kemerdekaan di Kota Solo dan sekitarnya. Meski usianya sudah renta, tetapi ingatannya masih melekat kuat di kepalanya. Ia lahir dan besar di Banaran, sebuah kampung kecil di Kota Solo, Jawa Tengah. Hadi adalah bekas anggota Tentara Pelajar, sebuah korps pejuang yang dibentuk oleh Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) pada saat perang kemerdekaan. Hadi bergabung dengan Tentara Pelajar sejak 1946, ketika ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meskipun statusnya pelajar, ia lebih sering menghabiskan waktu untuk angkat bedil dan bergabung dengan sejumlah front di daerah Surakarta, Boyolali, dan Karanganyar, ketimbang belajar di sekolah. “Kalau mau pergi sekolah, saya pamitan mau perang, bukan menuntut ilmu. Ibu sudah tahu dan selalu berdoa memohon keselamatan,” kata Hadi kepada Rappler, seraya mengenang masa lalu. Ia berperang dengan senjata seadanya karena keterbatasan perala...